Bentar Lagi Nelayan Bendungan Batujai "Mampus"?

PaPa
By -
0

 Nelayan Bendungan Batujai di empat kecamatan Loteng sungguh nasibnya sudah di tepi jurang. 

Didorong sedikit aja, langsung ji'un.



P E M E R I N T A H  Provinsi NTB dan Pemda Loteng ngotot tetap bisnisin Bendungan Batujai, Loteng.

Mereka sudah terlanjur memberikan bendungan itu kepada sebuah perusahaan untuk membangun terminal, hanggar pesawat amphibi, berikut fasilitas lain.


Bisnis perusahaan di bendungan itu adalah wisata klas yahuud yang dikhususkan bagi para cukong luar yang datang ke daerah ini.

Fulus para konglomerat akan berjubel memadati kas daerah yang mereka kelola.


Sayangnya, ambisi cari duit untung gede Pemprov dan Pemda itu mengabaikan nasib semua nelayan di seluruh desa, empat kecamatan lingkar bendungan. 


Para nelayan mengaku tak diajak ngomong yang berimbas kepada nasib-nya nanti.

"Kami menyatakan menolak pembangunan terminal pesawat amphibi di bendungan ini," tegas Beni Kuspandi, ketua nelayan Karang Baru Barat, sekaligus Ketua Pokmas Pade Angen, pada Rabo (1/7/26).

Beni menyatakan hal ini saat melakukan aksi di areal bendungan bersama para nelayan.


Masyarakat yang merupakan penduduk asli itu mengaku sudah beberapa kali dibikin sial pemerintah. 

Pertama saat bendungan dibangun. Tanah nenek moyang mereka ludes jadi bendungan.


Kedua, saat pembangunan Bandara Internasional Lombok (BIL). Kepentingan dan nasib mereka terpinggirkan dengan dua proyek tersebut.

 "Setelah pembangunan jadi, kami terpinggirkan dan kami jadi penonton," kata Beni.

Beni dan seluruh nelayan trauma dengan hal itu.


Gelagat kurang baik pemerintah pada bisnis bendungan ini dirasa betul para nelayan.

Menurut Beni, nihilnya sosialisasi dari pemerintah maupun pihak terkait, membuat para nelayan merasa masa depan ekonomi mereka terancam.


Pada dasarnya, lanjut Beni, masyarakat tidak anti pembangunan, tapi pihaknya kecewa dengan proses yang tertutup, sedangkan informasi yang diterima warga hanya sebatas isu belaka.


Sosialisasi tak ada sama sekali sehingga para nelayan merasa tidak dianggap ada. 

Padahal masyarakat di lingkar bendungan 99 persen  menggantungkan hidupnya di Bendungan ini.

"Kami khawatir jika proyek ini dipaksakan tanpa diskusi maka mata pencaharian nelayan akan hilang," katanya. 


Sebelum nasib mereka keok tak jelas, Beni mendesak pemerintah mengadakan pertemuan dengan masyarakat untuk memberikan kejelasan.


Di lain sisi, Amaq Marwan, nelayan dari Kelurahan Semayan, Praya, juga mengaku ketar-ketir dengan ambisi gubenur dan bupati tersebut. 


Menurutnya, pemerintah boleh saja bisniskan apa yang ada di daerah ini, asalkan tidak membuat rakyat sengsara.

"Kami akan sngsara bendungan ini dipakai sebagai landasan pesawat. Mata pencaharian kami sebagai nelayan akan hacur," kata Marwan.


Seaplane di bendungan itu bukan tidak ada efek samasekali.

Menurut Marwan, bising dan getaran mesin membuat ikan kalangkabut.

Pas mau landing dan take-of suara mesin turbin seaplane bisa mencapai 90 - 110 desibel. Ikan air tawar sangat peka terhadap getaran air. 

Efeknya ikan panik, sembunyi ke dasar, pola makan ikan kacau dan telur tidak menetas.


Ombak buatan, lanjut Marwan.

Seaplane saat menyentuh air juga akan menimbulkan gelombang. Akibatnya sarang ikan dan benih yang berada di pinggir akan ditarik ombak tersebut.


Tumpahan bahan bakar dan oli, bagi Marwan paling membuat gila dan ini paling bahaya. 

Tumpahan satu tetes avtur saja bisa membuat lapisan di permukaan air. Akibatnya oksigen bercampur avtur membuat ikan terganggu pernapasannya.


Kekeruhan air, menurut Marwan juga tak kalah membuat onar ikan.

 Baling-baling pesawat bikin lumpur dasar menjadi naik. Air jadi keruh, plangton mati akibatnya rantai makanan terganggu. Pau

Tags:

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default