Para nelayan lingkar bendungan Batujai ditawari mimpi.
Biar mereka bungkam, investor dan pemerintah kasi mereka bon harapan.
M I S K I N dan melarat sungguh semakin dekat bagi para nelayan lingkar bendungan Batujai, Praya, Loteng.
Bendungan tempat mereka cari makan tiba-tiba "dijual" pemerintah kepada cukong.
Pemprov NTB dan Pemda Loteng kong kalikong memberikan PT AMAN Air menggunakan bendungan itu untuk kepentingan bribadi mereka. Mereka bisnis di situ.
Mereka akan ubah bendungan menjadi tempat terminal seaplane alias pesawat amphibi. Bendungan ini dikemas sebagai pusat konektifitas antar pulau seperti Bali, NTB dan NTT.
Para konglomerat ber-doku tebal akan diangkut ke situ lantas mereka menuju destinasi wisata antar provinsi, sesuai keinginan.
Hal itu membuat para nelayan di lingkar bendungan yang puluhan tahun menggantungkan hidupnya di sana, kocar-kacir.
Mereka lantas memberikan pernyataan sikap menolak.
Tapi kemudian, pemerintah dan perusahaan mendadak memberikan janji manis kepada para nelayan, agar mereka tidak "teriak" tak karuan, yakni mereka akan diberdayakan.
Komunikasi antara pihak perusahaan kepada pemerintah provinsi NTB diutarakan Kadis Pariwisata Loteng, Lalu Muhammad Hatta, S.Sos kepada sadaplombok.com.
Menurutnya semua warga lingkar bendungan dan para nelayan nantinya akan diberdayakan oleh pengusaha seaplnae dan pemerintah.
Menurut Lalu Muhamad Hatta, selain mencari ikan, para nelayan nanti akan membawa wisatawan keliling bendungan sehingga pendapatannya meningkat.
Dinas Perindag provinsi juga akan mendampingi para pelaku perajin eceng gondok di areal bendungan.
Janji dari pengusaha dan pemerintah itu seperti yang disampaikan Lalu Muhamad Hatta itu tak lantas dipercaya para nelayan.
Muhamad Sukri nelayan bendungan dari Desa Lajut, Prateng, malah menganggap ini sebagai lelucon murahan.
"Bagaimana mungkin kami nelayan bisa mengantar wisatawan premium pakai sampan sambil memancing. Kami merasa dibodohi," katanya.
Dia meminta pemerintah Loteng terutama Dinas Pariwisata untuk menggunakan akal dan jangan percaya begitu saja.
Di lain sisi, para nelayan terancam bangkrut dengan keberadaan pesawat di situ.
Seperti yang diulas Amaq Marwan, nelayan dari Kelurahan Semayan, Praya, pada berita sadaplombok.com sebelumnya. Ia mengaku ketar-ketir dengan ambisi gubenur dan bupati tersebut.
Menurutnya, pemerintah boleh saja bisniskan apa yang ada di daerah ini, asalkan tidak membuat rakyat sengsara.
Bagi Amaq Marwan, seaplane di bendungan itu bukan tidak ada efek samasekali.
Menurutnya, bising dan getaran mesin membuat ikan kalangkabut.
Pas mau landing dan take-of suara mesin turbin seaplane bisa mencapai 90 - 110 desibel. Ikan air tawar sangat peka terhadap getaran air.
Efeknya ikan panik, sembunyi ke dasar, pola makan ikan kacau dan telur tidak menetas.
Ombak buatan, lanjut Marwan.
Seaplane saat menyentuh air juga akan menimbulkan gelombang. Akibatnya sarang ikan dan benih yang berada di pinggir akan ditarik ombak tersebut.
Tumpahan bahan bakar dan oli, bagi Marwan paling membuat gila dan ini paling bahaya.
Tumpahan satu tetes avtur saja bisa membuat lapisan di permukaan air. Akibatnya oksigen bercampur avtur membuat ikan terganggu pernapasannya.
Kekeruhan air, menurut Marwan juga tak kalah membuat onar ikan.
Baling-baling pesawat bikin lumpur dasar menjadi naik. Air jadi keruh, plangton mati akibatnya rantai makanan terganggu.
"Kemiskinan kami sudah ada di depan mata karena ambisi ini," gerutu dia. Pau
