Cowok tukang las mengadu ke Polisi tidak berani pulang. Berawal dia dihubungi oleh istri orang yang dulu dipacarinya.
S E P E D A motor Darmanto (39), tukang las asli Desa Prabu, Pujut, Loteng, dibakar sejumlah warga. Rumah sahabatnya tempat ia tinggal juga dirusak.
Si tukang las itu pun memilih lapor ke Mapolda NTB (27/5/26).
Dalam laporan Darmanto, pelaku diduga warga dari Dusun Sauh, Desa Persiapan Blongas, Sekotong, Lobar.
Seingat Darmanto, kejadian ini bermula atas kesalahpahaman yang terjadi dengan suami bekas pacarnya, sekitar tiga bulan lalu.
Pada saat itu, Tiwi Astuti bekas pacarnya itu menghubunginya. Ternyata suami Tiwi mengtahuinya. Tiwi dan suaminya lantas ribut karena cemburu.
"Saya mencoba klarifikasi agar tidak terjadi kesalahpahaman dengan cara memberitahu Tiwi kalau saya punya calon istri," demikian Darmanto dalam laporannya.
Darmanto lalu mengirim video berisi dirinya sedang berduaan sama pacarnya bernama Nafsiah.
Kepada Tiwi, Darmanto meminta video dihapus setelah memperlihatkan dahulu suaminya, dan jangan disebar.
Video itu berisi dirinya sedang berbaring dan Nafsiah pacarnya itu berdiri.
"Tujuan saya sebagai bentuk klarifikasi agar suami Tiwi tak cemburu sama saya," demikian Darmanto pada laporannya.
Tapi celaka, sekitar seminggu lalu tiba-tiba vidio beredar dan sampai ke pihak keluarganya Nafsiah, pacar Darmanto dalam video itu.
Isi video rupanya membuat keluarga Nafsiah tidak terima. Mereka pun mencari Darmanto dan melakukan tindakan anarkis.
Seperti dalam laporan tersebut, pada Sabtu, (23/5/26) pukul 18: 00 Wita, Darmanto yang sedang menjalankan pekerjaannya sebagai tukang las didatangi sahabatnya bernama Gerin.
Darmanto diberitahu Gerin kalau sejumlah keluarganya Nafisah sedang musyawarah membahas kasus Darmanto ini.
Beberapa menit kemudian Darmanto meminta seorang sahabat lain bernama Kelek untuk mengantarnya ke Dusun Sepi untuk mencari teman.
Namun dalam perkalanan dirinya melihat kerumunan banyak orang di tempat musyawarah seperti yang dikabarkan Gerin tadi.
Darmanto tak berani melintas dan kemudian putar arah melalui jalur Mekaki menuju rumah saudaranya di Desa Kedaro.
Di tengah perjalanan Darmanto ditelpon Kadus Sauh, Herman dan meminta Darmanto untuk dateng ke lokasi musyawarah. Namun Darmanto meminta jaminan keselamatan kepada Kadus. Sang kadus tak berani.
Kebetulan saat itu sepeda motor Darmanto dipakai shabat lain bernama Ardi.
Naasnya, Ardi melintasi kerumunan musyawarah di maksud. Tak ayal, massa itu melampiaskan kemarahannya kepada sepeda motor Darmanto.
Ardi yang kebingungan memilih melepas motor dan tungganglanggang. "Ardi dicegat diminta turun serta menyerahkan motor. Setelah diberikan Motor itu langsung dibakar ditempat oleh orang yang diduga merupakan keluarga Nafisah," katanya sesuai laporan.
Sekitar 08.30 wita saat berada di rumah temannya, Darmanto ditelepon Kadus Herman lagi. Dirinya diminta segera pulang. Namun melihat kondisi sedang memanas Darmanto memilih diam.
Sejurus kemudian temen Darmanto tempatnya dirinya tinggal, menelpon memaksa Darmanto pulang. Kalau tidak, rumah temannya bakal dirusak dan dibakar.
Saat itu Darmanto kembali menanyakan siapa yang bisa menjamin keselamatannya jika dirinya menuruti kemauan keluarga Nafsiah itu. "Namun tidak ada satupun yang berani menjamin akhirnya saya putuskan untuk tidak kembali," kata Darmanto dikutip laporan Polisi.
Ancaman tadi bukan kaleng-kaleng, rumah teman Darmanto yang ia tempati betul-betul dirusak.
Selain itu, Darmanto pada laporannya mengaku diteror oleh warga yang diduga keluarga pacarnya tersebut melalui telephon bahkan secara langsung.
Ancaman mereka tak main main. Menurut laporan Darmanto, mereka akan mumbunuh dimanapun mereka melihat dirinya. "Secara mental saya sangat terganggu, ketakutan dan tidak berani kembali untuk melakukan pekerjaan saya," demikian Darmanto dalam laporannya. PaPa
