Razia aparat, adalah momok menakutkan bagi para pelaku bisnis cafe tuak. Aura wajah para waiter membuat "konslet". Penghasilan mereka juga "menggelepar".
TIGA orang waiter cafe "Bawaq Nao" wilayah Suranadi, Narmada, Lobar. itu duduk berdampingan. Pak Enggong penduduk Sedau, Pak Edi penduduk Kantar, dan Pak Yayan Asli Narmada. Tubuhnya lesu, senyumnya "berantakan".
Mereka tak bergairah melayani tamu, Sabtu (11/4/26). Menurut mereka, semalam ada razia aparat polsi bersama Sat Pol PP, Lombok Barat (Lobar). Sejumlah cafe di bilangan Suranadi, disatroni aparat. Cafe tempat mereka bekerja tunggu giliran.
"Setiap razia, minuman selalu habis dibawa aparat. Modal jadi ludes," keluh Pak Enggong.
Setiap razia, Pak Enggong dan waiter lain tak dapat gaji. Para bos cafe biasanya menggaji karyawannya model harian. Diberikan tiap hari, selesai kerja. Mereka digaji Rp 50.000 perhari.
"Jika ada razia, kami ngga dikasi honor. Soalnya minuman yang dijual dibawa aparat dan semua tamu kabur. Cafe merugi," katanya.
Bos cafe, menarik untung tipis pada setiap botol minuman tradisional jenis tuak itu. Dalam satu botol dapat untung tiga ribu rupiah. "Pada makanan pun kita tarik untung sedikit," katanya.
Para waiter ini berharap agar aparat tidak membawa minuman jika menggelar razia. Sebab hal itu hanya membuat cafe rugi juga membuat aparat lelah menggotongnya. PaPa

