Teka-teki itu belum juga terpecahkan. Sejumlah Investigator bayaran satu persatu balik badan.
Pembantaian wartawan di cafe ilegal Suranadi itu masih misteri.
S U D A H berminggu-minggu misteri tragedi pemukulan wartawan yang sedang tugas jurnalis di sebuah cafe ilegal bilangan Suranadi, Narmada, Lombok Barat (Lobar) itu belum juga terpecahkan.
Walau kasus ini sudah ditangani pihak kepolisian Mataram, namun masyarakat penasaran siapa pemain di balik cafe remang-remang di sana.
Akhirnya kami kembali turun tangan menyingkap tabir yang menutupi rasa penasaran masyarakat itu.
Menemaniku investigasi, saya mengajak seorang bekas Petugas Lindungan Masyarakat (Linmas) wilayah Prateng bernama Pak Tan ke Suranadi.
Di sebuah cafe, kami dan Pak Tan menjadi tamu.
"Kami pesan LC. Carikan yang genit," bisik saya kepada salahseorang witers setelah dia menaruh tuju beling tuak.
Beberapa saat kemudian saya dan Pak Tan pun mempunyai teman cewek bohay masing-masing.
Dari informasi yang kami dapat di situ, pengelola cafe ilegal pada tragedi pembantaian jurnalis itu ternyata sosok perempuan bahenol berinisial PTR.
"Bodinya mulus dan bokongnya semok," ujar salahseorang witers yang enggan namanya disebut.
Menurut Witers itu, ternyata PTR menjadi rebutan sejumlah lelaki hidung belang dari kalangan oknum LSM, oknum kontraktor kecil, oknum pengusaha tembakau, oknum pengusaha jual beli mobil, hingga pemabuk ugal-ugalan pemain judi slot.
Mereka para suami yang diduga imannya tipis ini berlomba merebut cinta pengelola aduhai itu.
Mereka berlomba-lomba merebut cintanya PTR dengan datang ke cafe lalu bertingah boros pura-pura kaya. Sialnya, para oknum lelaki hidung belang itu mengaku sebagai pacarnya PTR.
Kami mencoba menghubungi salahseorang petinggi LSM loteng yang konon kesem-sem juga sama PTR.
Dia pun datang menemani kami malam itu. Mungkin dari dia, kami ada informasi tentang cafe ilegal dan pengelolanya tersebut.
"Kalau bisa mari meluncur ke sini," demikian yang kami kirim melalui gelombang elektromagnetik.
Minuman tuak pun bereaksi mempengaruhi otak. Pikiran kami berangsur-angsur berubah tidak waras betul.
Tiba-tiba petinggi LSM ini menghubungi PTR melalui hape.
"Kami mau mengajak sadaplombok.com ke cafe," kira-kira demikian suara itu kami dengar.
Sejurus kemudian dia meminta kami menuju cafe tragedi jurnalis itu untuk bertemu dengan PTR.
"LC yang sudah dipesan di sini dicancel aja. Nanti nyari di sana," katanya.
Kami lantas meluncur ke cafe di maksud.
Memasuki areal cafe tragedi jurnalis itu, tiba-tiba suasana glamor muncul. Bangunan cafe nampak sederhana dan di sampingnya ada berjejer gazebo bambu sampai areal belakang. Suasananya remang-remang.
Halaman cafe ditumbuhi berbagai pepohonan perdu.
"Saya mau duduk di gazebo tempat terjadi pemukulan wartawan itu," bisik saya kepada salahsatu karyawan di situ.
Kami lalu di ajak ke gazebo nomer satu persis belakang bangunan cafe.
Lampu pada gazebo itu dikemas remang-remang. Ada saklarnya jika ingin suasana gulita.
"Biasanya lelaki hidung belang akan matikan lampu jika udah mabuk bersama LC," kata seseorang.
Tiba-tiba informasi yang mengecewakan muncul. Ternyata PTR pengelola cafe mendadak tak bisa bertemu kami. Dia diduga mendadak haid dan meluncur pulang.
"Dia mendadak pulang karena kurang enak badan," kata petinggi LSM yang kesem-sem tadi.
"Tapi minuman tuak gratis ditanggung PTR," sambungnya yang dijawab langsung Pat Tan yang tidak mau dirinya digratiskan orang lain.
Lima beling tuak pun mendarat di depan kami. Kentang goreng dan sup cumi juga ada.
Lantas kami bersama petinggi LSM, Pak Tan dan seorang perempuan binal yang saya bawa pun ngobrol banyak di gazebo tersebut.
Kami mencoba bertanya banyak kepada witers di situ, namun mereka seperti menghindar. Kami pun kesulitan mencari tau kronologis tragedi "pembantaian" wartawan di maksud.
Beberapa saat kemudian mendadak petinggi LSM meminta kami masuk room di cafe itu, karena di sana bisa nyanyi karaoke tak seperti di gazebo.
"Ayo aja. Saya bawa dana," ujar Pak Tan mengiayakan anjuran petinggi LSM itu.
Kami membuka pintu room dan kondisinya bagus. Ruangan sekitar 3 x 8 sekaligus kamar mandi pojok itu berjejer kursi busa berwarna gelap. Pesawat tv menerangi ruangan jika lampu sengaja dipadamkan.
Masuk room membuat kami lupa tujuan datang ke cafe ini. Wawancara dengan pemilik atau witer kami lupakan.
Beberapa LC tiba-tiba masuk menemani kami nyanyi karaoke. Kami, Pak Tan, dan petinggi LSM merasa senang.
Investigasi yang kami lakukan ternyata belum membuahkan hasil. Kami lun berencana akan melakukan investigasi kembali.
Simak pada edisi selanjutnya. PaPa
