Insiden pembantaian Jurnalis di Cafe ilegal Suranadi itu seperti Kotak Pandora, yakni istilah pada cerita yunani kuno.
Kalau dibuka, semua aib keji keluar dari kotak yang melibatkan banyak "jawara".
P A G I cerah Sabtu (6/6/26), Ahmad Patoni, SH alias Ton tukang ojek lulusan fakultas hukum jurusan hukum pidana itu mengisi janjinya.
Detektif kacangan yang disewa emak-emak menjadi investigator tragedi pembantaian wartawan di cafe ilegal ini datang pagi buta seperti ucapannya pada pemberitaan sadaplombok.com edisi 5.
Seperti berita bagian 4, hasil penerawangan dukun itu meleset. Ciri-ciri oknum LSM yang diberikah ghaib ternyata salah setelah yang bersangkutan dikonfirmasi.
Betul memang orang itu LSM, tapi bukan LSM pembeking cafe. "Malam kejadian dia lagi mengajar anak-anak tetangganya baca Al-Quran. Dia ngajar ngaji dan dapat iuran," kata Ton seperti pengakuan LSM pada fhoto berita bagian 4 sadaplombok.com.
Sampai saat ini Ton mengaku belum bisa memecahkan misteri oknum LSM pasang badan terhadap cafe ilegal saat pembantaian wartawan.
"Tapi saya tak mau kalah. Saya punya sejumlah motede investigasi lain," Kata Ton seraya mengaku lupa sarapan dan rokoknya juga ketinggalan.
Ton mengaku istrinya masih melakukan investigasi dengan cara nyamar sebagai penjual makanan ringan keliling di cafe Suranadi. Ton yakin, besoknya pasti ada info dari Siti, istrinya itu.
Semalam Ton tak bisa pulas. Rasa penasaran tentang siapa oknum LSM itu membuat matanya tak bisa dikatup. "Akhirnya saya mendatangi dukun lain," katanya.
Dukun kali ini bernama Ustas Sapar penduduk Prateng. Dukun yang diketahui alim itu dikenal mempunyai jenis mantra yang berasal dari kaum Babilonia kuno, beda drngan mik cetur, dukun sebelumnya yang cuma menggunakan jampe lokal, dari kedatuan Pejanggik.
"Ustas Sapar mendaptkan mantra itu turun-temurun dan dipakai pula sejak buyut kakeknya dia," kata Ton menyanjung dukun kucluk itu.
Seperti yang dicetitakan Ton. Ustas Sapar cuma menggunakan tangkai daun sirih dan setengah air dalam baskom. Cara kerjanya persis kompas yang bisa menunjuk arah utara dan selatan.
Menurut Ton sesuai perkataan dukun, ujung tangkai daun sirih itu bisa menunjuk posisi tempat tinggal oknum LSM itu, setelah tangkai sirih itu dikasi mantra.
"Saya ditarik mahar Rp 50 ribu untuk beli minyak wangi, menyan dan benang putih. Dan ternyata Ustas Sapar menjual sediri di rumahnya," kata Ton.
Ton menyaksikan prosesnya. Sang sukun mengambil tangkai sirih lalu meniupnya sambil komat kamit membaca mantra. Menurut Ton, mantra yang dikasi ke tangkai itu lebih dari dua mantra. "Mungkin agar semakin kuat," kata Ton yakin.
Setelah dikasi mantra, ustas lalu menaruh tangkai daun itu di tengah baskom berisi air. Tak kama kemudian nampak gelembung-gelembung kecil lantas tangkai itu mulai bergerak-gerak seprti menggigil.
Ton tak berusaha mengawasi dengan tidak mau berkedip. Ia takut ada momen ghaib terlewatkan.
Saat itu, ustas nampak berkeringat dan seperti orang pasrah. Tapi sejurus kemudian, ustas kembali meniupkan sebuah mantra lagi.
"Mantra terakhir itu membuat tangkai bergerak lebih leluasa bahkan dia berputar putar menunjuk arah utara, barat, timur dan selatan," sebut Ton.
Ton mencoba mengingat mantra tetakhir yang dibacakan ustas Sapar. "Kalau tidak salah bunyinya "pong porot.. telok belencek..side morot.. aku nyentek" lalu ustaa meniup tangkai," ujar Ton mengingat ingat.
Ton terus memelototi tangkai yang berputar keras. Lama kelamaan tangkai itu berputar pelan. Akhirnya tangkai berhenti berputar. "Kami lalu menambah alat penerang dengan menggunakan lampu HP. Ternyatan ujung tangkai mengarah ke arah barat," kata Ton.
Sesuai petunjuk tangkai itu, Ton yakin tempat tinggal oknum LSM yang menjadi beking cafe remang remang saat pembantaian wartawan itu berada di wilayah barat. "Mungkin dari lombok barat atau mataram," tebak Ton.
Lalu kemudian persoalan muncul lagi. Setau Ton, banyak LSM yang rumahnya di Lobar atau Mataram.
Ton mengaku semakin pusing.
Lantas kemudian bagaimana Ton memecahkan teka teki oknum LSM yang diduga "budak" cafe remang remang itu.
Simak edisi selanjutnya. PaPa
