Penasaran dengan LSM yang diduga sebagai bekings cafe ilegal Suranadi, Lobar. Sejumlah ibu muda sewa investigator.
SEORANG tukang ojek lulusan sarjana hukum salahsatu universitas di NTB disewa emak-emak muda Dusun Bongor, Desa Batunyala, Kecamatan Praya Tengah, Lombok Tengah (Loteng).
Ahmad Patoni, SH nama tukang "ngebit" penumpang pakai motor itu, "diongkosin" emak-emak untuk investigasi siapa oknum LSM yang pasang badan bagi cafe ilegal saat salahseorang wartawan dihabok pengelola cafe.
Seperti diberitakan sejumlah media, wartawan yang sedang melakukan investigasi jurnalistik di salahsatu cafe bilangan Suranadi, Narmada, Lobar diduga mendapat perlakuan kriminal oleh pengelola cafe.
Sialnya, saat itu oknum LSM yang brada di dalam ruangan cafe datang menghampiri wartawan menyatakan pasang badan kepada siapapun yang mengganggu cafe remang- remang itu.
Hal itulah membuat emak-emak penasaran.
"Kemarin (senin, red) saya dikasi ongkos ibu-ibu untuk cari tau siapa oknum LSM itu," ujar Ton, panggilan karib ojek itu, Selasa (2/6/26) di Praya.
Diceritakan Ton, dirinya meluncur ke Suranadi pada Senin (1/6) sore untuk investigasi sesuai permintaan ibu-ibu. Namun dia tak lantas menuju cafe tempat kejadian, dia mampir di sejumlah cafe lain terlebih dahulu.
Rencananya, Ton akan menuju cafe Tempat Kejadian Perkara (TKP) pada terakhir nanti.
Pertama-tama Ton singgah di cafe Gede Sentane. Posisi cafe ini paling barat. Di situ Ton pesan tuak dua botol sambil berusaha ngobrol mencari info sama orang-orang. "Tapi informasi yang saya dapat belum lengkap, akhirnya saya pindah," katanya.
Ton pun menuju arah timur dan mampir di Cafe Bunut Ngereng. Menurut Ton, cafe ini agak sepi dan hanya sampai di parkiran.
Dia menuju arah timur lagi dan masuk ke Cafe Pandawa. Di situ Ton pesen dua beling tuak dan berusaha nanya-nanya ke orang-orang. "Pengunjung cafe ini kebanyakan orang kampung yang nampak ugal ugalan setelah mabuk. Saya cabut aja," katanya.
Tuak empat botol di dua cafe tadi membuat Ton menjadi agak "liar". Jalan fikirannya mulai agak berantakan. Namun dia mengaku pantang menyerah sebelum mendapat info valid.
Dia bergerak ke arah timur melewati dua cafe yakni Cafe Palm dan Cafe Cilok karena agak ramai.
Ton lantas masuk ke Cafe Bawak Nao. Di situ Ton pesan dua botol tuak lagi. Ton berusaha bertanya kepada salahsatu witers bernama Enggong. "Jawaban Enggong tidak sempurna betul. Malah dia bilang tak tau," kesal Ton.
Ton memilih keluar cafe dan menuju cafe 69 tak jauh dari cafe Bawak Nao. Di cafe ini Ton pesen dua botol tuak dan berusaha mengajak pramusaji bernama Loleh ngobrol. Ton mengaku jawaban Loleh juga tidak normal. "Ia mengaku tak tau juga," kata Ton.
Jam sudah menunjukkan pukul 21.30 namun Ton belum mendapat info valid. Ton tidak mau kecewakan emak-emak yang membiayainya, ia lantas keluar dan menuju arah timur lagi.
Ton mengaku sempat melihat areal cafe Tenda Biru, tapi lokasinya agak dalam ia memilih lanjut.
Dari kejauhan ton melihat ada jembatan samping pohon beringin besar. Di situ ada cafe Mekar dan Ton langsung masuk. Ton kembali pesan tuak dua beling.
Sekitar setengah jam di sana Ton mengaku mulai sempoyongan. "Saat itu sy mendadak pesen LC untuk menemaniku duduk dan saya nambah pesen tuak lima beling lagi," aku Ton.
Akhirnya Ton minum bersama LC sampai larut dan lupa menuju cafe TKP.
Ton mengaku kaget ketika jam sudah menunjukkan pukul nol-nol. "Istri saya nelpon marah-marah menyuruhku pulang," ketus Ton.
Ton takut dan menuruti perintah istrinya.
Sampai berita ini diturunkan, Ton belum bisa memberikan emak-emak hasil investigasinya karena tak lengkap. PaPa
