Mungkin seperti gunung es.
Satu persatu dugaan kasus seksual di pondok pesantren Loteng mulai terkuak.
Wibawa sekolah Agama Islam di daerah ini, babak belur.
B A N Y A K Tuan Guru alias kiai di Lombok Tengah (Loteng) yang kasus asusilanya terungkap.
Walau bertampang malaikat, namun belakangan satu persatu diketahui melakukan perbuatan gelo mengajak santriwatinya ho'oh.
Tengok saja banyaknya kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakoni orang-orang yang sungguh nampak seperti dekat dengan tuhan.
Fenomena ini kini menjadi tidak asing di Loteng. Para oknun tuan guru maupun pengasuh pondok pesantren itu seakan menjadikan muridnya sebagai mangsa seks.
Keresahan orang tua untuk menyekolahkan putra putrinya ke tempat-tempat mereka ini, menjadi wajar.
Di yayasan pendidikan agama di Kecamatan Jonggat, kecamatan Praya Timur atau kecamatan Pujut, yang kasusnya sudah ditangani penegak hukum misalnya. Hal inilah yang membuat para orang tua panas dingin.
Tim investigasi kami mencoba mengungkap salahsatu faktor penyebab kenapa pengelola pesantren banyak yang sampai melakukan hal edan kepada muridnya itu.
Kami mencoba bertemu dengan sejumlah alumni ponpes.
Kami bertemu langsung dengan eks santriwati inisial SR, penduduk Kecamatan Praya Tengah.
SR dulu menjadi santriwati di salahsatu Ponpes wilayah Loteng.
"Dulu saya nyanti dari mulai Tsanawiah hingga Aliyah pada yayasan yang sama," katanya Rabu pekan lalu di rumahnya.
SR tak mengaku heran jika ada kejadian pelecehan seksual pengelola ponpes dengan santriwatinya.
Salahsatu yang membuat hal itu terjadi, menurut SR, adalah kondisi dan model bangunan Ponpes.
"Dulu saya nyantri di Ponpes yang tempat mandi dan mencucinya dekat dengan tempat pimpinan yayasan. Jadinya santriwati bolak balik ke tempat mandi melewati tongkrongan pemilik Ponpes," katanya.
Para santri pergi ke tempat mandi biasanya menggunakan kain sarung yang membunkus tubuh dengan melipat dan menjerat ujung sarung atas memakai kedua belah telapak tangan di leher.
Usai mandi setelah handukan, para santriwati kembali mengenakan dan membungkus tubuh menggunakan sarung menuju kamarnya.
Di situlah kadang pengasuh ponpes jelalatan melihat tubuh para santriwati.
Soalnya walau seluruh tubuh dibungkus kain sarung namun betis para santri keliatan karena panjang sarung memang satu ukuran, tidak besar-besar amat.
"Pada saat itulah kami kadang canggung lewat depan teras tongkrongan pemilik ponpes. Tapi mau apalagi ketimbang kami tidak mandi," katanya senyum.
Hal senada diungkapkan RH bekas santriwati penduduk Pratim.
Perempuan yang kini sudah menjadi ibu rumah tangga itu menceritakan dirinya saat nyantri tiga tahun silam di salahsatu Ponpes Loteng.
"Kedekatan santriwati seperti duduk bareng sama tuan guru maupun pipinan Ponpes mungkin menjadi pemicu terjadi tindakan asusila," katanya.
RH dulu melihat beberapa temannya di suruh bersih-bersih rumah dan kamar pemilii Ponpes.
Saat itu kadang santriwati menyapu dan mengepel lantai dengan agak nungging. "Mungkin santriwati yang dilihat posisi agak nungging itu penyebab pemilik ponpes merangsang," katanya.
Ungkapan beda dikatakan Mur, eks santriwati.
Beberapa taun lalu dia mendapatkan tuan guru pemilik Ponpes yang muda dan sering melontarkan ucapan "ngeres" jika membuka pengajian.
Ucapan ngeres tuan guru, bagi Mur kemungkinan karena faktor makanan yang membuat tuan guru sange.
Soalnya, tuan guru itu suka makan daging kambing yang mungkin mengakibatkan birahi tinggi.
"Apalagi saat bulan maulid nabi. Dia selalu diundang maulid yang pulangnya bawa berkah makanan berupa daging kambing hampir tiap hari," ungkap dia. Pau
