"Bisnis" makanan "sedekah" pemerintah untuk pengentasan kelaparan yang ada di Kopang, Loteng, itu membuat pengelola "kenyang". Namun membuat warga sekitar "asam lambung" .
SADAP LOMBOK - Dapur Makanan Gizi Gratis (MBG) di Kejanan, Dusun Kopang I, Desa Kopang Rembige, Kecamatan Kopang, Lombok Tengah (Loteng) digeruduk warga. "Saudagarnya" dinilai serampangan membuang limbah.
Puluhan warga dengan amarah mendatangi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tersebut, Ahad malam (19/4 26) sekitar pukul 20.00 Wita. Pengelola makanan yang diyakini membuat anak cerdas itu dituduh tidak menghargai warga sekitar.
Beruntung aparat kepolisian hadir di situ menghindari perbuatan anarkis warga.
Warga tidak tahan akibat bau limbah. Ini sangat mengganggu masyarakat sekitar. "Suara teriak teriak karyawan, bunyi ompreng dan aktivitas dapur tengah malam juga sangat mengganggu kami," teriak warga pada malam itu. Bau dan suara bising membuat warga tidak bisa tenang beristirahat.
Warga mrngancam akan alihkan air limbah dapur MBG itu ke rumah pengelola dan karyawannya. "Biar kalian tau rasa," teriak seorang warga.
Lokasi dapur di tengah pemukiman juga tidak refresentatif. Jalan kampung yang sempit selalu digunakan memarkir mobil MBG. Akibatnya, aktivitas lalu lalang warga di jalan itu terganggu. "Sulit berpapasan kalau warga pakai mobil. Akibat mobil MBG selalu parkir" ungkap warga.
Sebelumnya, warga beberapa kali menyampaikan keluhan ke pemilik dapur, namun tidak diindahkan.
Warga pun menuntut Badan Gizi Nasional (BGN) menutup permanen SPPG yang pengelolanya bandel ini. Tapi tak digubris.
Kepala Desa Kopang Rembiga, Patria Negara membenarkan kejadian tersebut. "Kejadian ini merupakan respon spontan warga karena bau tidak sedap akibat limbah SPPG," katanya.
"SPPG juga tidak pernah koordinasi dengan pihak pemerintah desa," sambung kades.
Sementara itu pihak kepala SPPG Kajanan Kopang saat mencoba dikonfirmasi belum memberikan jawaban hingga berita ini ditulis. PaPa
