Bendungan Batujai Loteng Akan Dijadikan Stand Pelat. Untuk Para Bohir

PaPa
By -
0

 


Akhir Tahun ini bendungan Batujai yang berlokasi di Kota Praya, Loteng, NTB akan menjadi stand pelat pesawat terbang amphibi.

Pemerintah membuatnya untuk kesenangan para bohir.



AHMAD BAIHAKI setiap usai solat subuh  mengayuh sampan rakit sederhana miliknya menyusuri bendungan itu.  Jala lempar berikut jaring ancok selalu dibawa.


Pria, 47 tahun asli Kelurahan Semayan, yakni wilayah pesisir bendungan dikenal sebagai nelayan bendungan. Ia mengaku menopang ekonomi keluarganya hanya dari hamparan air tawar tersebut. 

"Dari bendungan ini lah keluarga saya bisa makan dan sekolahkan anak. Begitupun dengan puluhan nelayan lain," ujarya, beberapa waktu lalu.

Bendungan ini merupakan habitat Ikan mujair, tawes, siam, hingga kalper. "Tawes yang paling banyak," sebutnya.


Kini bendungan tersebut tak cuma dipakai nelayan, namun PT Abadi Mega Angkutan Nusantara (AMAN air) meliriknya sebagai ladang bisnis renyah.

Perusaahaan itu akan pakai bendungan menjadi terminal induk pesawat amfibi (water plane)  untuk mendukung konektivitas penerbangan wisata dari Loteng ke Bali dan ke NTT.


Rencana itu disampaikan saat kunjungan pihak investor bersama Pemkab  Loteng ke Bendungan Batujai, pada Desember tahun lalu. "Bendungan Batujai ditargetkan menjadi pusat koneksi penerbangan wisata," ujar Bupati Loteng, HL Pathul Bahri, saat itu.

Menurut Pathul, konsepnya adalah hubungan dari Bendungan Batu Jai, pesawat akan melayani rute ke Benoa, Benete, Gili, Mandalika, Gili Trawangan, Gili Meno, Teluk Saleh, hingga sejumlah destinasi lain di NTT.

 "Konsep dengan pola penerbangan khusus pariwisata premium," katanya.


Terminal pesawat tersebut ditargetkan beroperasi tahun 2026 ini. Menurut Wakil President PT Aman Air Daniel Dwi Ananta, pengoperasian pesawat amfibi ditargetkan mulai kuartal dua tahun 2026. 

"Sebelum operasional, kami akan membangun infrastruktur pendukung seperti darmaga dan hanggar untuk oenyimpanan dan perbaikan pesawat di kawasan Bendungan Batujai," katanya.


Daniel menjelaskan luas lahan yang dibutuhkan sekitar setengah hektare dan dipastikan tidak mengganggu aktivitas masyarakat maupun kondisi perairan, termasuk keramba dan aktivitas nelayan setempat. 


Terkait perizinan, PT Aman Air telah berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan, Balai Wilayah Sungai (BWS), serta Air Navigasi untuk mendukung rencana pengoperasian pesawat amfibi di Bendungan terssebut.


Ini yang namanya Ervan itu

Proyek pembangunan landasan seaplane atau pesawat amfibi di Bendungan itu berjalan sesuai rencana. Bahkan, wacana ini hampir tanpa penolakan dari masyarakat setempat.

"cuma masih menunggu penyelesaian sejumlah perizinan dari beberapa kementerian," kata Kepala Dinas Perhubungan NTB, Ervan Anwar, kepada media, baru baru ini di Mataram.


Dia menjelaskan izin pemanfaatan kawasan di Bendungan Batujai diajukan ke Kementerian PUPR melalui Balai Wilayah Sungai (BWS), sementara izin operasional transportasi udara diproses di Kementerian Perhubungan.

“Sedang berproses semuanya," katanya.


Target beroperasinya seaplane tersebut diproyeksikan pada akhir tahun 2026 ini. Menurut Ervan, wakaulun hal itu tetap mengacu pada seberapa lama rampungnya sejumlah perizinan.


Ervan mengatakan tidak ada penolakan dari warga setempat, termasuk masyarakat yang selama ini memanfaatkan kawasan Bendungan Batujai untuk menjari rejeki dengan mencari ikan.

Menurutnya, seaplane yang akan dioperasikan nantinya menyasar wisatawan kelas premium dan dirancang untuk mempercepat akses wisatawan menuju sejumlah destinasi unggulan. Pau

Tags:

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default