Ratusan orang tua murid tiga sekolah Lombok Tengah itu ngamuk. Mereka tak terima anak mereka nyaris mati gara-gara makan MBG.
SUASANA di tiga sekolah Beber, Kecamatan Batukliang, Loteng itu kacau balau pada Jumat, 11/9.
Ratusan murid diduga mengalami keracunan setalah memakan Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Mereka terlihat muntah-muntah dan kejang. Suasana tambah tak menentu saat para murid menangis berteriak-teriak histeris kesakitan.
Orang tua dan keluarga para murid berjibaku mengangkat anak mereka ke mobil puskesmas. Banyak pula yang langsung melarikan anak mereka ke sejumlah puskesmas.
Walau begitu para orang tua dan keluarga murid masih sempat-sempatnya berteriak tak karuan mencaci maki dan mengumpat pengelola MBG.
Bahkan mereka mengancam akan membakar dan mencincang pengelola MBG berikut petugas dapur.
"Kalian sangat jahat mau membunuh anak-anak kami," teriak seorang orang tua murid di halaman sekolah Beber.
Beberapa wali murid juga mengancam perugas MBG dengan ancaman akan membawa parang.
Jumlah siswa yang diduga mengalami keracunan setelah menyantap MBG di Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah, sebanyak 352 orang.
Sejumlah orang tua siswa menunjuk bukti makanan MBG yang terdapat ulat.
Mereka dilaporkan mengalami gejala setelah mengonsumsi menu MBG yang terdiri dari kebab, daging ayam potong, dan salad buah.
Ratusan siswa itu mendapat penanganan di sejumlah fasilitas kesehatan.
Badan Gizi Nasional (BGN) NTB menyampaikan permohonan maaf kepada para siswa, orang tua atau wali murid, serta pihak sekolah atas kejadian tersebut.
Sementara itu, penyebab pasti kejadian tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terhadap sampel makanan.
Sementara itu, Ketua yayasan dapur MBG yang dapat proyek makanan itu, Khairudin menyatakan, keracunan dialamai para murid karena mereka terlambat makan. "Mereka makan di atas jam sepuluh pagi. Seharusnya MBG di makan di bawah jam sepuluh," kata pria warga Gunung Kedul, Batukliang itu.
Dia menyarakan agar para murid makan MBG sekitar jam sembilan agar aman.
Walau demikian, para murid yang diduga keracunan berangsur membaik setelah mendapat perawatan. PaPa
